Jumat, 13 Januari 2012

kebudayaan maluku

Sosial budaya di Maluku

Maluku adalah salah satu pulau di Indonesia yang dimana pulau tersebut adalah pulau tempat pada saudagar-saudagar dari jazirah arab sampai portugis menginjakkan kakinya di sana. Di sanalah lahirnya pahlawan yang gambarnya di cetak di mata uang senilai 1000 rupiah (saya kurang setuju mengenai ini, seharusnya lebih dari seribu :P ). Di Maluku banyak corak beragam yang terdapat di sana, tentu kita masih ingat koflik SARA yang terjadi di sana yang membuat “suhu” antar agama di Indonesia memanas pada saat itu. Berikut akan saya jelaskan secara singkat tentang sosial budaya yang terdapat di Maluku.

Suku Bangsa

Suku bangsa Maluku didominasi oleh ras suku bangsa Melanesia Pasifik yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik.
Banyak bukti kuat yang merujuk bahwa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa bangsa kepulauan pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik khas, contoh: Ukulele (yang terdapat pula dalam tradisi budaya Hawaii).
Mereka umumnya memiliki kulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat serta profil tubuh yang lebih atletis dibanding dengan suku-suku lain di Indonesia, dikarenakan mereka adalah suku kepulauan yang mana aktivitas laut seperti berlayar dan berenang merupakan kegiatan utama bagi kaum pria.
Sejak jaman dahulu, banyak diantara mereka yang sudah memiliki darah campuran dengan suku lain, perkawinan dengan suku Minahasa, Sumatra, Jawa, Madura, bahkan kebanyakan dengan bangsa Eropa (umumnya Belanda dan Portugal) kemudian bangsa Arab, India sudah sangat lazim mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama 2300 tahun dan melahirkan keturunan keturunan baru, yang mana sudah bukan ras Melanesia murni lagi. Karena adanya percampuran kebudayaan dan ras dengan orang Eropa inilah maka Maluku merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang digolongkan sebagai daerah Mestizo. Bahkan hingga sekarang banyak marga di Maluku yang berasal bangsa asing seperti Belanda (Van Afflen, Van Room, De Wanna, De Kock, Kniesmeijer, Gaspersz, Ramschie, Payer, Ziljstra, Van der Weden dan lain-lain) serta Portugal (Da Costa, De Fretes, Que, Carliano, De Souza, De Carvalho, Pareira, Courbois, Frandescolli dan lain-lain). Ditemukan pula marga bangsa Spanyol (Oliviera, Diaz, De Jesus, Silvera, Rodriguez, Montefalcon, Mendoza, De Lopez dan lain-lain) serta Arab (Al-Kaff, Al Chatib, Bachmid, Bakhwereez, Bahasoan, Al-Qadri, Alaydrus, Assegaff dan lain-lain). Cara penulisan marga asli Maluku pun masih mengikuti ejaan asing seperti Rieuwpassa (baca: Riupasa), Nikijuluw (baca: Nikiyulu), Louhenapessy (baca: Louhenapesi), Kallaij (baca: Kalai) dan Akyuwen (baca: Akiwen).
Dewasa ini, masyarakat Maluku tidak hanya terdapat di Indonesia saja melainkan tersebar di berbagai negara di dunia. Kebanyakan dari mereka yang hijrah keluar negeri disebabkan olah berbagai alasan. Salah satu sebab yang paling klasik adalah perpindahan besar-besaran masyarakat Maluku ke Eropa pada tahun 1950-an dan menetap disana hingga sekarang. Alasan lainnya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang labih baik, menuntut ilmu, kawin-mengawin dengan bangsa lain, yang dikemudian hari menetap lalu memiliki generasi-generasi Maluku baru di belahan bumi lain. Para ekspatriat Maluku ini dapat ditemukan dalam komunitas yang cukup besar serta terkonsentrasi di beberapa negara seperti Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Belgia, Jerman dan berbagai benua lainnya.

Musik

Alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-masing alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun musik ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong berukuran besar dan Toto Buang yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang di taruh pada sebuah meja dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Adapula alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).
Dalam kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat ketika musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.
Musik lainnya ialah Sawat. Sawat adalah perpaduan dari budaya Maluku dan budaya Timur Tengah. Pada beberapa abad silam, bangsa Arab datang untuk menyebarkan agama Islam di Maluku, kemudian terjadilah campuran budaya termasuk dalam hal musik. Terbukti pada beberapa alat musik Sawat, seperti rebana dan seruling yang mencirikan alat musik gurun pasir.
Diluar daripada beragamnya alat musik, orang Maluku terkenal handal dalam bernyanyi. Sejak dahulu pun mereka sudah sering bernyanyi dalam mengiringi tari-tarian tradisional. Tak ayal bila sekarang terdapat banyak penyanyi terkenal yang lahir dari kepulauan ini. Sebut saja para legenda seperti Broery Pesoelima dan Harvey Malaihollo. Belum lagi para penyanyi kaliber dunia lainnya seperti Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, Monica Akihary, Eric Papilaya, Danjil Tuhumena, Romagna Sasabone, Harvey Malaihollo serta penyanyi-penyanyi muda berbakat seperti Glen Fredly, Ello Tahitu dan Moluccas.

Tarian

Tari yang terkenal adalah tari Cakalele yang menggambarkan Tari perang. Tari ini biasanya diperagakan oleh para pria dewasa sambil memegang Parang dan Salawaku (Perisai).
Ada pula Tarian lain seperti Saureka-Reka yang menggunakan pelepah pohon sagu. Tarian yang dilakukan oleh enam orang gadis ini sangat membutuhkan ketepatan dan kecepatan sambil diiringi irama musik yang sangat menarik.
Tarian yang merupakan penggambaran pergaulan anak muda adalah Katreji. Tari Katreji dimainkan secara berpasangan antara wanita dan pria dengan gerakan bervariasi yang enerjik dan menarik. Tari ini hampir sama dengan tari-tarian Eropa pada umumnya karena Katreji juga merupakan suatu akulturasi dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku. Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses biligualisme. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol. Tarian ini masih tetap hidup dan digemari oleh masyarakat Maluku sampai sekarang.
Selain Katreji, pengaruh Eropa yang terkenal adalah Polonaise yang biasanya dilakukan orang Maluku pada saat kawinan oleh setiap anggota pesta tersebut dengan berpasangan, membentuk formasi lingkaran serta melakukan gerakan-gerakan ringan yang dapat diikuti setiap orang baik tua maupun muda.
Kesimpulannya dalah keberagaman di Maluku merupakan sebagian kecil dari keberagaman budaya yang ada di Indonesia, benarlah jadinya kalau samudera yang hilang itu adalah Indonesia. Dengan keberagaman yang di miliki oleh negeri ini membuat kebhinekaan tunggal ika harus di wujudkan agar negeri ini menjadi negeri yang sejahtera dengan keberagaram tersebut dan tidak mudah terpecah belah oleh karena itu diperlukan suatu sistem yang membawahi semua itu
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku

Add New Comment

  • Image

Showing 1 comment

Switch to our mobile site

budaya jepang

Negara Jepang kaya dengan berbagai kebudayaan leluhurnya yang beraneka ragam. Walaupun saat ini perkembangan teknologi di Jepang terus up date dalam hitungan perdetik , namun sisi tradisional masuh terus dilestarikan hingga sekarang ini. Berikut ini adalah salah satu dari berbagai macam kebudayaan Jepang yang masih terus berlangsung hingga saat ini :

Matsuri (祭, Matsuri) adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan.

Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi.

Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.

Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan.

Sejarah

Matsuri berasal dari kata matsuru (祀る, matsuru? menyembah, memuja) yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.

Matsuri dalam bentuk pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk Kigansai (permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan Jichinsai (upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan ikut serta.

Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius.

Tiga matsuri terbesar

* Gion Matsuri (Yasaka-jinja, Kyoto, bulan Juli)
* Tenjinmatsuri (Osaka Temmangu, Osaka, 24-25 Juli)
* Kanda Matsuri (Kanda Myōjin, Tokyo, bulan Mei)

Matsuri yang terkenal sejak dulu

Daerah Tohoku

* Nebuta Matsuri (kota Aomori, bulan Agustus) dan Neputa Matsuri (kota Hirosaki, bulan Agustus)
* Kantō Matsuri (kota Akita, bulan Agustus)
* Sendai Tanabata Matsuri (kota Sendai, bulan Agustus)

Daerah Kanto

* Chichibuyo Matsuri (kota Chichibushi, Prefektur Saitama, 2-3 Desember)
* Sanja Matsuri (Asakusa-jinja, Tokyo, bulan Mei)
* Sannō Matsuri (Hie-jinja, Tokyo, bulan Juni)

Jumat, 16 Desember 2011

Trik Cara Membuat Recentpost Berjalan

  1. Login dulu ke Akun Blogspot anda

·         2. Lalu pada halaman Dasbord Pilih dan Klik Rancangan


·         3. Setelah terbuka Laman rancangan Klik Tambah Gadget

 
 ·         4. Lalu pilih Widget HTML/JavaScript


·         5. Copy script berikut :
 
  <script type='text/javascript'>
//<![CDATA[
function RecentPostsScrollerv2(json)
{
var sHeadLines;
var sPostURL;
var objPost;
var sMoqueeHTMLStart;
var sMoqueeHTMLEnd;
var sPoweredBy;
var sHeadlineTerminator;
var sPostLinkLocation;
try
{
sMoqueeHTMLStart = "<MARQUEE onmouseover="this.stop();" onmouseout="this.start();" ";
if( nWidth)
{
sMoqueeHTMLStart = sMoqueeHTMLStart + " width = "" + nWidth + "%"";
}
else
{
sMoqueeHTMLStart = sMoqueeHTMLStart + " width = "100%"";
}

if( nScrollDelay)
{
sMoqueeHTMLStart = sMoqueeHTMLStart + " scrolldelay = "" + nScrollDelay + """;
}
if(sDirection)
{
sMoqueeHTMLStart = sMoqueeHTMLStart + " direction = "" + sDirection + """;
if(sDirection == "left" || sDirection =="right")
{
//For left and right directions seperate the headilnes by two spaces.
sHeadlineTerminator = "&nbsp;&nbsp;";
}
else
{
//For down and up directions seperate headlines by new line
sHeadlineTerminator = "<br/>";
}
}
if(sOpenLinkLocation =="N")
{
sPostLinkLocation = " target= "_blank" ";
}
else
{
sPostLinkLocation = " ";
}
sMoqueeHTMLEnd = "</MARQUEE>"
sHeadLines = "";
for(var nFeedCounter = 0; nFeedCounter < nMaxPosts; nFeedCounter++)
{
objPost = json.feed.entry[nFeedCounter];
for (var nCounter = 0; nCounter < objPost.link.length; nCounter++)
{
if (objPost.link[nCounter].rel == 'alternate')
{
sPostURL = objPost.link[nCounter].href;
break;
}
}

sHeadLines = sHeadLines + "<b>"+sBulletChar+"</b> <a " + sPostLinkLocation + " href="" + sPostURL + "">" + objPost.title.$t + "</a>" + sHeadlineTerminator;
}
document.write(sMoqueeHTMLStart + sHeadLines + sMoqueeHTMLEnd )
}
catch(exception)
{
alert(exception);
}
}
//]]>
</script>

<script style="text/javascript"> var nMaxPosts = 10; var sBgColor; var nWidth; var nScrollDelay = 180; var sDirection="left"; var sOpenLinkLocation="Y"; var sBulletChar="â&#65533;¢"; </script> <script style="text/javascript" src="http://BLOGKAMU.com/feeds/posts/default?alt=json-in-script&callback=RecentPostsScrollerv2"></script>

·         6. Terakhir klik SAVE
Ca 
Catatan :
nMaxPosts = 10                   : merupakan banyaknya post yang akan ditampilkan.
nScrollDelay = 180              : merupakan kecepatan marquee semakain kecil semakin lambat.
;http://BLOGKAMU.com    : ganti dengan alamat blog mu.

Cara Membuat Daftar isi pada blog

Berikut ini langkah-langkahnya :
1. Masuk ke account blogger anda
2. Pilih tata letak/layout
3. Pilih tambah gadget
4. Pilih HTML/javascript.
5. Beri Judul Dafar isi atau judul sesuai dengan keinginan sobat
5. Kopas kode di bawah ini

Cara Memasang Widget Alexa di Blog

1.Login Terlebih Dulu K 2.Kemudian Klik Menu Site Tool - alexa widget atau biar cepat Klik aja di SINI
3.Masukkan Alamat Blog Sobat Pada Kolom yang Tersedia Misal : http://m-wali.blogspot.com/
dan Klik Build Widget
4.Nah Copykan Kode HTML yang Tertera di Sana
5.mau di Jelaskan Juga cara pasang Ke Blog? yup  masuk dasbor-Rancangan-Edit HTML-dan tambah/Add Widget.

Jumat, 09 Desember 2011

Jejaring Sosial Islam Segera Diluncurkan

JAKARTA – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah menjalin kerja sama dengan Salam Word, sebuah jejaring sosial Islam internasional, yang akan diluncurkan pada pertengahan tahun mendatang.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat mengatakan, Indonesia menjadi pasar potensial bagi para layanan provider atau jejaring sosial yang menawarkan berbagai konten, baik pornografi, hiburan,maupun ekonomi.Namun, dia mengeluhkan minimnya jejaring sosial yang memuat tentang pengembangan keilmuan.“Perkembangan jejaring sosial patut diapresiasi, tapi juga perlu dikritisi agar konten pornografi tidak dikonsumsi anak-anak,” ungkap Komaruddin seusai menandatangani MoU dengan Salam Word di Jakarta kemarin.

Dengan demikian, Salam Word diharapkan dapat memberikan media komunikasi antardunia Islam untuk berbagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sebab sebagian besar informasi tentang dunia Islam sudah disaring oleh dunia Barat. Informasi tersebut bahkan kadang tidak disampaikan secara objektif.

“Hadirnya Salam Word diharapkan nantinya informasi antardunia Islam bisa diterima secara langsung tanpa harus disaring lewat dunia Barat. Dengan demikian, akan ada satu kohesi gagasan yang lebih progresif,”ujarnya. Komaruddin menjelaskan, selain dapat dijadikan sebagai media tukar-menukar kebudayaan dan keilmuan,kerja sama dengan Salam Word juga dapat dijadikan sebagai media untuk kerja sama ekonomi dan politik.

Sementara itu,Kepala Eksekutif Salam World Abdul Vakhed Niyazov mengatakan, Salam Word muncul di tengahtengah kegalauan orang tua dan keluarga atas perkembangan jejaring sosial yang terlalu longgar atau permisif. Pornografi dan kekerasan bahkan sering dianggap masalah biasa.

Padahal, itu sangat mengganggu keluarga di dunia mana pun. “Untuk itu, kami tampil dengan sebuah konsep yang menyelamatkan seluruh anggota keluarga,”ujarnya. Saat ini Salam Word bermarkasdiIstambul, Turki.Dipilihnya Turki sebagai lokasi pendirian kantor pusat karena Turki dianggap sebagai tempat yang menjembatani masyarakat dunia Barat dan Timur.

Selain di Turki, Salam Word juga akan mendirikan kantor cabang di beberapa kota besar di dunia seperti London, Berlin,Moskow,New York, Kairo, Astana, Kuala Lumpur, New Delhi,dan Washington. andi setiawan

Akar-Akar Perbedaan Budaya di Indonesia

KabarIndonesia - Sanusi Pane  dan Sutan Takdir Alisyahbana pernah bertengkar pada fase revolusi fisik dan intelektual dalam usaha membangun bangsa Indonesia yang bebas dan beradab. Sutan Takdir Alisyahbana meminta bangsa Indonesia membuka diri terhadap  kebudayaan barat yang bersumber pada pencerahan dan bertumpu pada keunggulan akal dan budi yang bebas. Tetapi Sanusi Pane menggugatnya, karena baginya kebudayaan barat cenderung memaksakan logika kemajuan tanpa mengindahkan logika kemajuan budaya-budaya lokal Indonesia yang tak bisa diukur berdasarkan logika kemajuan barat.

Sanusi Pane tidak melihat kebudayaan sebagai keseharian, tetapi sebagai puncak  cipta rasa karsa manusia. Sedangkan mereka yang memiliki waktu luang untuk bercipta rasa karsa bukan rakyat jelata, melainkan golongan aristokrat. Anggapan lainnya, pengkotakkan antara kebudayaan tinggi dan kebudayaan rendah. Kebudayaan tinggi adalah hasil-hasil terbaik dari olah pikir dan rasa manusia. Kebudayaan pun menjadi fungsi waktu. Kebudayaan tinggi adalah kebudayaan mereka yang memiliki waktu luang, sedangkan kebudayaan rendah adalah  milik mereka yang dikekang oleh rutinitas hidup. Ia selau mengasosiasikan kebudayaan adi luhung dengan kebudayaan Sriwijaya, Majapahit, kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, dan lain-lain, di masa lalu. Dengan anggapan samar bahwa rakyat tak punya kebudayaan. Kalaupun punya, "kebudayaan" terlalu agung untuk rakyat.

Kita dilahirkan di Indonesia, di daerah tertentu di mana terdapat sekitar 250 bahasa ibu tertentu yang membentuk kita sebagai manusia yang menganut dan menghargai nilai-nilai bersama. Kita tumbuh menjadi manusia berbudaya dengan adaptasi kita terhadap nilai-nilai masyarakat sekitar, melalui orang tua dan keluarga. Para pakar antropologi Indonesia sering hanya menyebut adanya pembagian 19 wilayah budaya besar. Dari 19 wilayah budaya besar ini dapat dikategorikan empat jenis budaya, yaitu budaya kaum peramu atau pengumpul, budaya kaum peladang,  budaya kaum pesawah, dan budaya maritim (Sumardjo : 2003). Yang tertua adalah budaya kaum peramu atau pengumpul makanan.


Budaya Kaum Peramu/Pengumpul Makanan
Kaum peramu dahulu tersebar di wilayah Indonesia bagian timur. Mereka hidup dari kemurahan alam yang kaya, pada dasarnya bersifat konsumtif. Mereka mengambil dan mengumpulkan hasil alam tanpa usaha mempengaruhinya. Setiap individu harus punya ketrampilan mandiri. Kesadaran keberadaan diri sangat tinggi. Semua orang sama. Pola pikir kaum peramu muncul dalam pengaturan kampung, upacara, pengaturan rumah, hubungan suami istri, mitologi, karya-karya seni, dan segala budaya manusia peramu merupakan syarat untuk memahami makna dari seluruh artefak dan tingkah laku budayanya.


Budaya Kaum Peladang
Inilah dasar budaya sebagian besar masyarakar Indonesia, tersebar di Indonesia bagian barat, tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Mereka hidup dari bertani, menanam sejenis padi kering, berladang. Teknologi perladangan masih menggantungkan diri pada kemurahan alam. Meskipun manusia ladang sudah produktif, tetapi juga masih kosumtif(paradoksial). Mereka memilih tinggal di lingkungan hutan tropis daerah pegunungan karena di daerah seperti itu banyak curah hujan, yang merupakan syarat dasar sistem perladangan.

Prinsip kaum peladang "hidup itu adalah menumbuhkan" atau "hidup itu menghasilkan hidup baru." Pola pikir kaum peladang dan kaum petani umumnya adalah bahwa kehidupan ini merupakan harmoni atau perkawinan dari segala pasangan oposisi. Di Indonesia bagian barat pola pikir "perkawinan" segala hal dualistik itu adalah umum. Pola pembagian tiga budaya peladang ini berasal  dari faham dualisme purba. Pasangan oposisi dualistik itu tak bermakna kalau terpisah. Segala sesuatu yang ada baru bermakna kalau terjadi harmoni integrative antara dua pasangan yang bertentangan. Hasil harmoni atau "perkawinan"  itu adalah lahirnya entitas baru, yaitu entitas ketiga yang bermakna, transenden semua yang "hidup", "selamat", "subur", "kuat", "damai", "suci", adalah entitas "dunia tengah". Seluruh gagasan, tingkah laku, dan hasil budaya kaum peladang berfokus pada "dunia tengah ini". Kreatifitas budaya kaum peladang tercurah dalam menghadirkan "dunia tengah" atau perkawinan dua entitas yang saling bersebrangan. Pandangan kosmologi, sistem perkampungan, sistem hunian kolektif, sistem hunian individual, benda-benda budaya, upacara, karya-karya seni, dapat dijelaskan dari pandangan dasar "pembagian tiga" ini.Akibat dari cara berpikir tentang kosmos membentuk kaum peladang umumnya sebagai mentalitas ganda, konsumtif-produktif, independen-dependen, individual-kolektif, malas-rajin, dan lain-lain. Memberi dan menerima juga harus seimbang, bersifat resiprokal.      Hubungan darah sangat penting dalam mentalitas kaum peladang, sehingga kategori "dalam", "luar", dan "batas-batas" sangat penting. Diutamakan kepentingan "dalam" terbatas, baru kepentingan "dalam" yang lebih luas. Dampaknya, varian budaya kaum peladang juga kaya, meskipun tidak sekaya kaum peramu. Sehingga mentalitas keluarga pun menonjol. Bahkan dalam beberapa budaya ladang di Indonesia, nama keluarga sangat penting, kedudukan ibu sangat penting, setidaknya dihormati.


Budaya Kaum Pesawah
Mereka hidup dari bertani padi basah di dataran-dataran rendah yang banyak dialiri sungai-sungai. Berbeda dengan petani ladang, petani sawah justru mengubah dan membudayakan alam. Alam dikendalikan demi budaya sawah mereka.

Persawahan tidak dapat dilakukan oleh perorangan dan dalam kelompok kecil. Produksi padi semakin besar kalau jumlah tenaga manusia semakin banyak dan lahan persawahan semakin luas. Masyarakat sawah adalah masyarakat dengan format besar. Tempat hunian dan persawahan bersifat menetap sehingga konsentrasi jumlah manusia semakin besar di suatu wilayah. Lokalitas tanah dan jumlah penduduk menjadi kategori penting masyarakat sawah. Jumlah yang serba besar itu membutuhkan pengaturan sentral dan kuat. Prisip menyatukan segala hal dalam kendali satu pusat merupakan kebutuhan. Sentralisme kekuasaan bukan hal asing. Pemimpin kharismatik sangat diperlukan. Akibatnya, pengaturan sosial dalam stratifikasi diperlukan. Feodalisme bukan hal asing. Prinsip hidup kaum pesawah adalah menyatukan segala hal yang dualistik dalam satu pusat harmoni. Yang satu itu banyak dan yang banyak itu satu. Semakin banyak hal diharmonikan di pusat atau dunia  tengah, semakin tinggi tingkat transendensi "pusat" itu. Kaum pesawah mengenal pembagian tiga ganda. Karena pusat atau dunia tengahnya hanya satu, maka terdapat "pembagian lima". Dampak lebih jauh dari sikap ini adalah tumbuhnya agresivitas kaum petani sawah. Ambisi produksi besar menuntut pembesaran wilayah dan pembesaran jumlah tenaga manusia.Budaya ini menumbuhkan mental kolektivitas, solidaritas, lokalitas, produktivitas, dan organisasi kerja besar. Berbeda dengan masyarakat ladang yang tertutup dalam konsep sosial " dalam" dan "luar", maka masyarakat sawah lebih terbuka dalam menghadapi "luar", yang "luar" itu akan diterima sebagai "dalam" kalau berfungsi secara integral dalam kesatuan organisasi besar mereka.


Budaya Kaum Maritim
    

Masyarakat budaya kaum maritim menghuni daerah pesisir dengan ketrampilan kelautan yang tinggi. Laut memang "memisahkan" tetapi juga sekaligus "menyatukan". Kaum maritim menghubungkan budaya-budaya yang terpisah-pisah di Indonesia itu dalam jaringan komunikasi yang mereka kuasai. Ini mendidik kaum maritim menjadi masyarakat bermental pragmatis. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Mentalitas mereka tidak membedakan kategori "dalam" dan "luar". Semua yang "luar" dan "asing" itu dapat diterima sebagai "dalam" kalau menguntungkan.

Mobilitas masyarakat ini tinggi. Jarak dan geografi bukan masalah bagi mereka. Pantun-pantun mereka dipenuhi dengan nama-nama tempat. Teknologi dan keahlian teknis sangat dipentingkan sebagai salah satu fokus budaya. Manusia itu berharga karena tingkat teknologi yang tinggi. Persaingan dan permusuhan seperti menjadi prinsip kaum peramu juga dijadikan prinsip kaum maritim. Dalam budaya kaum maritim hidup itu persaingan dan perebutan sehingga kecerdikan dijunjung tinggi meskipun tak jarang menjadi kelicikan. Berkaitan dengan hal ini, rasa harga diri mereka sangat tinggi. Arogansi mereka tampak berbalikan dengan sikap kaum petani ladang dan peramu yang cenderung rendah hati. Akibat persaingan yang kuat, kekuasaan maritim selalu cenderung agresif seperti orang sawah. Ambisi mereka untuk mencapai sesuatu juga besar, bukan dalam tenaga manusia dan luas tanahnya yang dimiliki, tetapi pada penguasaan teknologi dan jaringan komunikasi dagangnya. Tak heran jika sejarah kepulauan Indonesia penuh dengan pertikaian kekuasaan orang sawah dengan kekuasaan orang kelautan.Meskipun faham dualisme tetap dipakai, namun sangat fleksibel dalam mengadopsi "pembagian dua", "pembagian tiga", dan "pembagian empat-lima". Umumnya kaum maritim tumbuh dari budaya lading dan sawah. Sikap independensi kaum kelautan ini juga tinggi seperti kaum peramu.


Pentingnya Memahami Keanekaragaman Budaya Di Indonesia    

Kesalahfahaman budaya sering terjadi di Indonesia masa sekarang karena banyak pemimpin Indonesia menggunakan ukuran budaya asalnya sendiri dalam menghadapi masalah-masalah di wilayah budaya lain. Kekuasaan pada seorang pemimpin kharismatik yang terpusat mungkin dapa diterima umum dalam masyarakat tertentu karena budayanya menunjukkan demikian, tetapi bagaimana di masyarakat lain yang budayanya biasa memilih pemimpin berkualitas tanpa mempedulikan keturunan pemimpin berkharisma?

Oleh karena itu sangat penting memahami keanekaragaman budaya Indonesia yang tidak memiliki sejarah linear. Hulu sejarah kita plural, dan tetap plural sampai hari ini dalam struktur mentalitas masyarakat pendukungnya.

Keberagaman budaya hanya kita lihat dari kesenian yang terbawa dari masa lalu ke masa kini. Keberagaman itu terpendam dalam sikap budaya berupa mentalitas dan ungkapan kolektif ketika mereka menghadapi persoalan masa kini, yang sering tidak disadari berbagai pihak. Apakah makna pemimpin itu sama bagi masyarakat Sunda, Melayu, Jawa? Apakah hak milik itu sama bagi masyarakat Dayak, Papua, dan Bali? Apa arti kekuasaan bagi masyarakat Ambon, Sulawesi, dan Nusa Tenggara? Sikap hidup dan mentalitas kolektif itu dibentuk oleh budayanya, kita hanya dapat mengetahui keberadaannya yang beragam lewat apa yang telah dihasilkannya berupa artefak-artefak budaya masyarakat sepanjang sejarahnya. Sejarah budaya kita membuktikan bahwa candi-candi Hindu-Budha yang dibangun di kerajaan-kerajaan Jawa yang sawah berbeda dengan candi-candi yang sama di Melayu yang kelautan dan perladangan. Mitologi Maluku Utara, Minangkabau, Lombok dan daerah lain dalam menanggapi masuknya agama dan budaya Islam pun berbeda.Dengan "Bhineka Tunggal Ika", apakah menyatunya berbagai budaya asal dalam wujud baru budaya Indonesia itu hanya merupakan keinginan sekelompok orang atau kebutuhan  bersama? Indonesia yang satu itu dibutuhkan oleh 19 wilayah budaya besar atau lebih dari 250 budaya yang lebih rinci.

Lalu apakah nasional itu? Nasional tentunya yang ika itu. Tetapi keikaan mana yang akan dipakai? Nasional kaum pesawah akan berbeda dengan nasional kaum maritim, kaum peramu, dan kaum peladang. Nasional persawahan akan mendatangkan masalah bagi nasional peramu, peladang, dan maritim. Kenasionalan kita seharusnya transenden, yang tidak dikandung oleh masing-masing jenis budaya tersebut. Faham-faham global transenden bagi budaya-budaya Indonesia. Kapitalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi, semua itu produk budaya "yang tak dikenal" dalam budaya-budaya di Indonesia. Masalahnya kapitalisme di budaya ladang berbeda dengan kapitalisme di budaya sawah, dan lain-lain. Kita tak dapat memilih  di lingkungan budaya mana kita minta dilahirkan.  Masing-masing kita terlahir dan tumbuh di lingkungan budaya dari primordial peramu, ladang, sawah, dan maritim. Dalam proses menjadi budaya yang ika, nasional di tengah-tengah penerimaan budaya global, kita tidak dapat menjadikan salah satu dari empat jenis budaya primordial sebagai tolok ukur dan panduan utama. Kalau kita menjadikan satu budaya untuk tolok ukur, diam-diam akan tumbuh sikap kontra budaya terhadap budaya dominan.Sekarang kita tentu sangat mengharapkan bahwa kebudayaan yang tadinya sesak mulai melonggarkan dirinya. Segala sesuatu direnungkan dan dipertimbangkan, termasuk keyakinan-keyakinan yang telah mengeras secara sosial. Intoleransi digeser oleh toleransi. Saling curiga diganti dengan saling percaya. Keraguan dibalik m

Pekerjaan TKI Dipertemukan Budaya Unggul Dunia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pekerjaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri juga dipertemukan dengan keragaman budaya unggul yang dimiliki bangsa-bangsa di dunia. Dengan demikian para TKI khususnya yang bekerja di sektor formal sebagai tenaga kerja terampil, semi terampil, dan profesional dapat bersentuhan sekaligus mengadopsi nilai-nilai keunggulan tersebut, guna dikombinasikan dengan kultur di tanah air untuk kemajuan bangsa.

Demikian disampaikan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat di Jakarta, Jumat (9/12/2011), saat membuka kegiatan Job Fair (pameran bursa kerja) untuk calon tenaga kerja luar negeri yang diselenggarakan BNP2TKI di Jakarta, 9-10 Desember 2011.

Pelaksanaan Job Fair diikuti lebih 20 perusahaan pengerah jasa TKI atau Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) serta perusahaan asuransi TKI, selain bekerjasama Dinas Tenaga Kerja Provinsi DKI Jakarta, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Serang, Banten, dan BP3TKI Jakarta, termasuk melibatkan berbagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Jakarta.

Job Fair tersebut menyediakan 4.000 peluang kerja untuk TKI di sektor formal, antara lain di perusahaan manufaktur, konstruksi, spa theraphy, perawat rumahsakit dan pengasuh orangtua lanjut, perhotelan, perminyakan (oil and gas), pengelasan, pertanian, perikanan, fisherman (kapal penangkap ikan), driver, tenaga engineering, information and technology, serta sejumlah pekerjaan untuk pelayanan hospitality (keramahtamahan) lainnya.

Sedangkan berbagai peluang kerja itu meliputi negara tujuan yaitu Brunei Darussalam, Taiwan, Malaysia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar. Dikatakan Jumhur, negara China memiliki tenaga kerja yang amat tersebar di seantero dunia hingga kemudian mempelajari pusat-pusat kebudayaan maju dari berbagai negara, untuk diadopsi dalam membangun kemegahan negaranya.

“Namun demikian, nilai-nilai budaya agung di masyarakat China tidak luntur, tetapi kemajuannya justru dapat dicapai melalui sumbangsih sebagian tenaga kerjanya dari luar negeri yang kembali ke negara asalnya,” jelas Jumhur.

Bahkan, katanya, perkembangan kemajuan bangsa China saat ini ikut mempengaruhi peradaban internasional utamanya melalui kegiatan perdagangan, di samping budaya China sendiri berkembang di tengah-tengah pusat kebudayaan dunia tanpa menghilangkan keasliannya. “Masyarakat China telah menjadi warganegara dunia namun tetap bertahan sebagai bangsa China,” tegasnya.

Jumhur mengatakan, para TKI yang bekerja di sektor formal pada berbagai perusahaan di luar negeri jelas mendapatkan pengalaman maupun pengetahuan yang baik terhadap kemajuan berikut adanya budaya luhur, agung, dan besar di dunia, sehingga merupakan bekal untuk kesuksesan dirinya selain dapat disumbangkan bagi masyarakat dan bangsa saat kembali ke tanah air.

Ia juga mengharapkan, komunitas TKI yang berada di negara lain kerap memperteguh semangat, akar budaya tanah air, serta nilai-nilai kebangsaan yang telah terpupuk lama, agar semakin dihargai oleh masyarakat dunia.

“Di samping itu, para TKI harus tetap bekerja keras dan menghasilkan perpaduan semangat dari kemajuan bangsa lain untuk kepentingan pengabdian di Indonesia,” ujarnya.

Jumhur menambahkan, para calon TKI terlatih, semi terlatih, ataupun profesional yang berharap dapat pekerjaan di luar negeri tidak perlu ragu karena ketersediaan peluang kerjanya cukup banyak dan beragam. “Hal ini pantas dilakukan jika merasa belum ada pengabdian atau pekerjaan di dalam negeri, serta ditekadkan untuk mengambil pelajaran dari kemajuan negara lain agar sekembalinya ke Indonesia menjadi manusia yang semakin berguna dan bermanfaat,” kata Jumhur.

Usul Kenaikan Upah Pemelihara Candi

KUDUS, KOMPAS.com--Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, akan mengusulkan kenaikan upah pemelihara benda cagar budaya di daerah ini, karena honorarium selama ini hanya Rp175.000 per bulan, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Hadi Sucipto.
"Upah yang selama ini diterima memang kecil, karena dari Pemkab Kudus hanya sebesar Rp75.000, sedangkan dari Pemprov Jateng Rp100.000 per bulan," katanya di Kudus, Kamis.
Hanya saja, kata dia, untuk alokasi dari Pemprov Jateng tahun ini ditiadakan, karena anggaran dialihkan ke pos penanggulangan bencana.
Untuk itu, menurut dia, perlu ada usulan kenaikan dengan meyesuaikan kemampuan keuangan daerah. "Kami memang tidak bisa menjanjikan adanya kenaikan. Akan tetapi, akan diupayakan naik," ujarnya.
Sedangkan jumlah pemelihara benda cagar budaya di Kudus saat ini hanya 25 orang, dari jumlah sebelumnya mencapai 30 orang.
Sementara jumlah bangunan yang termasuk sebagai benda cagar budaya yang ada di kota ini mencapai 98 unit, sehingga masih ada 73 unit bangunan yang tidak ada juru pemeliharanya.
Tugas para juru pelihara BCB, yakni merawat benda cagar budaya agar tidak rusak maupun dicuri orang.  "Mayoritas juru pelihara merupakan warga sekitar, agar pengawasannya lebih maksimal," ujarnya.
Salah seorang juru pelihara rumah adat Kudus, Ulul Fadli berharap, honorarium juru pelihara dinaikkan, karena beban tugasnya cukup berat.
"Pada musim hujan, seperti sekarang juga harus tetap waspada jika ada kebocoran pada genting rumah untuk segera diganti agar tidak merusak kayu pada bangunan rumah yang sudah berusia lebih dari 100 tahun," ujarnya.
Anggota Komisi B DPRD Kudus Setyo Budi Wibowo menganggap, honor yang diterima para juru pelihara BCB memang tidak sebanding dengan beban kerja yang diterima, sehingga layak dinaikkan seperti halnya pekerja lepas di sejumlah SKPD yang lain.
Kenaikan honor juru pelihara, katanya, dapat disamakan dengan penjaga kantor, petugas kebersihan pasar yang dialokasikan mendapatkan upah sesuai upah minimum kabupaten (UMK).
"Hanya saja, kenaikannya tentu disesuaikan dengan kemampuan daerah. Dengan tugas juru pelihara BCB yang berperan besar dalam menjaga kelestarian BCB di Kudus, tentunya harus diupayakan agar berhasil," ujarnya.
Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, terdapat 240 bangunan kuno atau rumah yang tergolong dalam kategori benda cagar budaya.
Hanya saja, sebagian di antaranya kondisinya cukup memprihatinkan karena kurang perawatan, menyusul subsidi untuk biaya perawatan bangunan dari pemerintah setempat masih minim.
Sebagian bangunan BCB yang kurang terawat, karena tidak dihuni oleh pemilik atau ahli warisnya karena tidak mampu menanggung biaya perawatannya.
Demikian halnya yang dihuni tidak mampu melakukan perawatan secara maksimal karena keterbatasan dana.
Bangunan kuno di Kudus sesuai surat keterangan (SK) Menteri sebagai BCB sebanyak 98 bangunan kuno yang tersebar di sejumlah wilayah.

Pendekatan Budaya, Solusi Konflik Papua

Pendekatan Budaya, Solusi Konflik Papua
| Jodhi Yudono | Kamis, 8 Desember 2011 | 15:11 WIB
Dibaca: 373
|
Share:
AP Ilustrasi Papua
JAYAPURA, KOMPAS.com--Pendekatan budaya dengan menanggalkan semua arogansi kultural merupakan salah satu solusi menyelesaikan konflik di Papua, kata seorang peneliti di Jayapura.
"Menanggalkan arogansi kultural berarti tidak menganggap diri dan kebudayaan sendiri sebagai yang paling baik, namun membuka diri bagi orang Papua serta kebudayaannya dan bersedia belajar dari mereka," kata Hari Suroto dari Balai Arkeologi Jayapura, Rabu.
Menurut dia,  banyak orang yang datang ke Papua bermaksud baik dan memang orang Papua dapat belajar banyak dari mereka, tetapi sebaliknya para pendatang harus belajar banyak dari orang Papua.
Karena itu, kata Hari, mereka harus menanggalkan arogansi kulturalnya. "Integrasi tidak berarti bahwa orang Papua harus menyesuaikan diri dalam segala hal dengan para pendatang, seakan-akan mereka sendiri serba kosong atau malah kurang baik," ujarnya.
Dia menjelaskan, integrasi antara dua kelompok merupakan suatu proses yang melibatkan dua kebelah pihak untuk saling menerima dan memberi.
Namun selama puluhan tahun terakhir orang Papua sudah belajar banyak dari Indonesia, tetapi sebaliknya negara ini dan banyak pendatang sepertinya enggan belajar sesuatu dari Papua.
"Tidak banyak pendatang yang sungguh berusaha mengenal tanah Papua, manusia, bahasa dan budayanya, dan biasanya seseorang tidak dapat mencintai apa yang dia tidak kenal," katanya.
Selain itu, dalam program pembangunan sering kurang diperhatikan dan dihargai kearifan lokal, seakan-akan Papua harus menjadi fotokopi dari daerah-daerah lain di Indonesia tanpa suatu warna lokal Papua.
"Menanggalkan arogansi kultural dan menerima orang lain sebagai saudara dengan sepenuh hati sangat dibutuhkan untuk mencapai integrasi yang sejati," katanya.
 
Sumber :
ANT
&lt;p&gt;Your browser does not support iframes.&lt;/p&gt;
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini.
  • Kamis, 8 Desember 2011 | 16:45 WIB
    Tidak banyak pendatang yang sungguh berusaha mengenal tanah Papua, manusia, bahasa dan budayanya, dan biasanya seseorang tidak dapat mencintai apa yang dia tidak kenal,"kata Hari Suroto dari Balai Arkeologi Jayapura , kalau mereka tidak belajar dgn orang papua mana bisa mereka hidup berdampingan di papua, pendekatan apapun yg penting semua elemen di papua mendukung tanpa dukungan mrk jelas gagal..
  • Kamis, 8 Desember 2011 | 15:36 WIB
    PENDEKATAN KULTURAL GOMBAL !!! OPERASI MILITER TERARAH & TERENCANA KE TARGET OPM LAH YG BISA MENENTRAMKAN PAPUA !! CONTOH CINA, GERAKAN MAKAR SEKECIL APAPUN LANGSUNG DITUMPAS !! HASILNYA ?? CINA MAJU MERAJAI DUNIA !!!
 
Kirim Komentar Anda
Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan KOMPAS.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. KOMPAS.com akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

KOMPAS.com berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silakan atau register untuk kirim komentar Anda
&lt;a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a6f23c6b&amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'&gt;&lt;img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=155&amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;amp;n=a6f23c6b' border='0' alt='' /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3039df4&amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'&gt;&lt;img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=157&amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;amp;n=a3039df4' border='0' alt='' /&gt;&lt;/a&gt;

Pagi Ini Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara Diresmikan

Pagi Ini Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara Diresmikan
Hertanto Soebijoto | Heru Margianto | Jumat, 9 Desember 2011 | 09:05 WIB
Dibaca: 909
|
Share:
SERAMBI/BUDI FATRIA Para seniman dari Negara Indonesia menggunakan pakaian adat Aceh mengikuti pawai "Aceh International Folklore Festival" di Banda Aceh, Sabtu (23/7/2011).
BIREUEN, KOMPAS.com - Hari ini, Jumat (9/12/2011), rencananya akan diadakan peresmian Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara (Sulalatus Salatin). Peresmian ditandai dengan pembukaan selubung Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara Samalanga.
Acara yang diadakan atas prakarsa Yayasan Tun Sri Lanang yang diketuai Hj Pocut Haslinda Muda Dalam Azwar itu didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Pemkab Bireuen.
"Besok (Jumat) acara akan kami lanjutkan di Kecamatan Samalanga, ke makam Tun Sri Lanang," kata Bupati Bireuen Nurdin Abdul Rahman dalam acara penutupan seminar sehari Ketokohan Tun Sri Lanang di rumah dinasnya, Kamis (8/12/2011) malam.
Selain meresmikan Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara Samalanga, juga akan dilakukan perjalanan ke Situs Tun Sri Lanang di Samalanga, penandatanganan Prasasti Salalatus Salatin, ke Monumen Pocut Meuligue, dan ziarah ke makam Tun Sri Lanang.
"Kami selaku ahli waris juga akan menyerahkan Surat sertifikat tanah wakaf kepada Bupati Bireuen. Luas tanahnya satu hektar," kata Hj Pocut Haslinda kepada Kompas.com, Kamis malam.
Pocut Haslinda mengatakan, di atas tanah seluas satu hektar itu antara lain juga akan dibangun Perpustakaan Tun Sri Lanang. "Peletakan batu pertamanya akan dilakukan besok (hari ini) setelah acara penandatanganan prasasti," kata Haslinda.
Acara peresmian Kawasan Wisata Sejarah Melayu Nusantara Samalanga merupakan rangkain acara seminar tentang Ketokohan Tun Sri Lanang dalam Sejaran Dua Bangsa Indonesia-Malaysia yang diadakan di Kantor Kabupaten Bireuen, Kamis. Selain diikuti peserta dari Indonesia, seminar juga menghadirkan pembicara dari Malaysia dan Singapura.

Aktif Perkenalkan Kesenian Sulsel di Kraton Solo

Aktif Perkenalkan Kesenian Sulsel di Kraton Solo


KESENIAN itu universal, seperti halnya musik, orang bisa berkomunikasi lintas budaya dengan seni. Itu dipahami Arly P Sudiyono, sehingga wanita kelahiran Makassar, 27 Juli 1968 ini, membentuk sanggar seni dan menjadikannya alat komunikasi yang erat dengan Kraton Solo.

OLEH: ASWAD SYAM

PENAMPILANNYA cuek, dari gayanya memang sudah menggambarkan bahwa dia seorang seniman. Rambut dikuncir seperti ekor kuda, pakai kacamata. Ngomongnya berapi-api, apa lagi kalau sudah menyangkut nasib rakyat kecil. Tapi jangan salah, dia ternyata adalah seorang pegawai negeri sipil di Lingkungan Kementerian Perindustrian. Namanya, Arly P Sudiyono.

Meski dilahirkan dari pasangan ayah R. Sudiyono SH dari Yogyakarta, dan ibu Hj Emmy Olii dari Gorontalo, namun, darah Makassar kental di dalam dirinya. Logatnya sama sekali tidak mencerminkan daerah asal kedua orang tuanya. Orang tua Arly mamang lama berdinas di Makassar, dan pada saat meninggal, juga minta dikuburkan di Makassar. "Saya anak Indonesia asli dan saya lahir di Indonesia, maka bagi saya kebudayaan manapun adalah milik saya," ujar Arly.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Makassar, Arly sebenarnya sudah tertarik dengan kesenian. Dia saat itu sudah berpikiran untuk membuka sanggar seni. Pada saat duduk di bangku SD, Arly aktif sebagai murid dari IKS (Ikatan Kesenian Sulawesi) di bawah pimpinan almarhumah Hj Sitti Aminah Daeng Puji, istri almarhum H Andi Matalatta. Setelah itu , Arly masuk ke Yayasan Anging Mammiri (YAMA) pimpinan almarhumah Ida Joeseof Madjid.

"Jadi dengan bekal itulah, saya berusaha untuk melestarikan tarian kebudayaan Sulawesi Selatan tanpa dikolaborasi," ujarnya.

Arly meninggalkan Makassar sekitar 1998 dan menetap di Jakarta. Karena ada ajakan dari beberapa perupa Yogyakarta untuk join, Arly pun kemudian berangkat ke tanah leluhurnya tersebut pada 2004. Disinilah dia kemudian banyak berkenalan dengan seniman-seniman Yogyakarta. Arly kemudian bergabung dengan Sanggar Watoeboemi milik Mas Wigit,  putra Pangeran Hadikusumo.  

Pada 2006, Arly kemudian menjadi panitia Beber Seni di Yogya, dan saat itu, dia berpikir bahwa itu kesempatan bagi Sulawesi Selatan untuk ikut berpartisipasi dalam acara pembukaan beber seni. Dia kemudian mencoba untuk mencari mahasiswa dan mahasiwi asal Sulsel yang sedang kuliah di Yogyakarta. Arly ke Jalan Mangunsarkoro Gang Rahmat, di sana dia mendapati asrama putri Kepmawa Wajo. Di depan mahasiswa dan mahasiswi asal Wajo tersebut, Arly mengutarakan niatnya untuk mengundang mereka berpartisipasi dalam beber seni. "Dan alhamdulillah mereka ingin ikut berpartisipasi," ujarnya.

Dengan waktu delapan hari, Arly mengajarkan mereka tari-tarian Sulsel seperti Pakarena, Pattennung, dan Ganrang Bulo. Kendalanya waktu itu adalah perlengkapan untuk tarian. Arly kemudian berinisiatif menjual handphone miliknya, juga melego perhiasannya agar bisa membeli perlengkapan tarian tersebut, meski perlengkapan itu tidak asli seperti dari Makassar.

"Saya mendapatkan semua peralatan tarian tersebut di Pasar Bringharjo," bebernya.

Itu merupakan tonggak awal berdirinya sanggar seni yang mereka namakan Sanggar La Tenribali. "Alhamdulillah sampai detik ini sanggar tersebut tetap eksis, walau saya sudah berada di Jakarta kembali. Dan Alhamdulillah, setiap ada event di Yogyakarta, sanggar La Tenribali selalu diminta untuk mengisi acara, termasuk waktu kirab di Kraton Solo," ungkapnya.  

Arly selalu menanamkan kepada mahasiswi di Yogyakarta, bahwa kesenian Sulawesi Selatan tidak kalah dengan kesenian lainnya. Walau berat bagi mereka untuk membagi waktu antara kuliah dan menari, namun dengan kesadaran tinggi mahasiswi Kepmawa Wajo bisa dan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membagi waktu antara kuliah dan latihan menari.

Arly berharap, Dinas Pariwisata Sulsel dan Kota Makassar bisa membantu dalam pengembangan sanggar La Tenribali di Yogya. "Agar kebudayaan kita bisa lebih eksis lagi di kota budaya Yogyakarta. Minimal turis yang tidak sempat singgah ke Makassar, bisa juga menikmati kebudayaan Makassar di Yogya. Dan sudah sepatutnyalah Pemerintah Provinsi Sulsel memberikan penghargaan kepada adik-adik kita mahasiswi yang aktif di sanggar La Tenribali, karena mereka duta budaya dari Sulsel di Yogya," tutur Arly.

Arly menikah dengan Andi Don Jamerro, cucu dari Datuk Sengeng di Sengkang. Dari perkawinannya tersebut, dia dikaruniai tiga orang putra, Ade Devi Dwi Nugroho, Andi Reza Tri SJjamerro dan yang bungsu Andi Septian Eka Prasetyo Jamerro. (*)